Kejenuhan akan rutinitas
pekerjaan bikin pikiran dan hati jadi mumet,dan hasilnya perkembangan otakpun
jadi terganggu. Dari situ muncullah ide buat cari tempat pelarian,dan tiba tiba
terlintas sebuah tempat yang menurut gue sangat pas yaitu Gunung Prau. Sebenernya gue uda bosen ama tempat
ini,maklumlah uda 4 kali, uda 4 kali gue rencanain ke tempat ini tapi gagal
terus makanya gue bosen*(pisomanapiso).
Dan gue bertekad kali ini harus kesana dan GAK BOLEH GAGAL lagi.
Sekedar informasi Gunung Prau itu terletak di daerah dataran
tinggi Dieng kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Banyak akses menuju ke sana,kalo
dari Jakarta bisa naek bus langsung ke terminal Wonosobo atau naek kereta turun
di stasiun Purwokerto lalu lanjut lagi menuju ke Wonosobo naek bus sekitar 2-3
jam. Dari daerah laen juga sama,dari kota masing masing bisa langsung menuju ke
terminal Wonosobo.
Oke langkah awal gue nyoba
racunin temen-temen di kumunitas AWASPALA (Asosiasi Wana Satria Pecinta Alam) dan buka forum backpacker buat cari
temen,pacar atau pasangan hidup yang mau nemenin gue ke sana.*(lol..oke abaykan) !!. Beberapa hari
kemudian akhirnya terkumpullah makhluk makhluk kece dari AWASPALA, ada Alpin
dan Suci, mereka jadi yang pertama yang ingin bergabung dengan trip ini. Kurang
seru rasanya kalo yang ikut cuma bertiga. Akhirnya racunpun gue tebar kembali
dan bertambah 4 orang lagi. Mega dari Surabaya, Aghni dari Jogya, Cecil dari
anggota AWASPALA dan yang terakhir Ulii dari Surabaya.
Jumat,30 Maret 2014
Perjalanan ke Wonosobo
Hari itu adalah hari terakhir
masuk kerja di akhir pekan,uring uringan ditempat kerja gara-gara gak sabar pengen cepet-cepet pulang terus pergi ke terminal buat ketemu temen-temen awaspala tercinta
*tsaah. Kerja dari jam 7 pagi ke jam 12
siang itu berasa lama banget (ya jelas
lama lah,jarum jamnya naek ke atas coba turun kebawah pasti cepet *lol),kerja
jadi gak fokus sambil mantengin group whatsapp Prau buat ngabarin persiapan
keberangkatan. Alpin yang domisili di Bogor menuju meeting point di terminal
Tanjung Priuk berangkat setelah solat Jumat dan alhasil dia nunggu temen temen
yang lain dari jam 3 sore sampe jam 5 sore*(maaf
yah Alpin). Dua jam menunggu akhirnya 2 bidadari cantik muncul dengan supir Ojeknya yaitu Cecil dan Suci
disusul pangeran berkuda putih Doell*(silahkan
dihujat). Setelah semuanya berkumpul kami pun berpelukan (oke ini
lebay,abaykan). Sedangkan tim dari Surabaya Mega dan Uli melakukan perjalanan
malam hari setelah pulang kerja dan kuliah, sedangkan Aghni yang dari Yogyakarta
berangkat pagi hari.
Oke akhirnya bis tim dari Jakarta pun berangkat jam
setengah 6 sore melewati hiruk pikuk kendaraan ibukota yang maceet. Sepanjang
perjalanan kami habiskan dengan obrolan obrolan ngalor ngidul dari canda tawa
banyolan banyolan sampai sesi curhat tentang asam manis cinta ,,hahahaha. Lagi
asik ngobrol tiba2 mamih Lina menelfon Alpin, dia bilang ingin bergabung bersama
kami dan menunggu di Wonosobo bersama sang kekasih tercinta Om Quncen. Lina dan
om Quncen sebelumnya sudah mendaki ke gunung Sindoro dan ingin lanjut bersama
kami ke gunung Prau.
Tidak terasa waktu
sudah larut, dinginnya AC pun makin menjadi jadi ditambah guyuran hujan tapi
Cecil gak kehabisan akal untuk mengatasi dinginnya malam itu,taraaaaa… digelarlah bantal dan sleeping bag hangatnya..hahaa,,ada
ada aja kelakuan Cecil. Tapi gakpapa deh dari pada hypothermia di dalem bis kan gak
lucu.
Sabtu,31 Mei 2014
Mentari pagi di terminal Mendolo, Wonosobo
Waktu menunjukan jam 7.30 gue
langsung kasih kabar ke tim dari Surabaya dan Yogyakata kalo sebentar lagi akan
tiba di terminal, tapi teman kita Cecil dan Suci masih terlelap berbalut
sleping bag hangatnya
Dan akhirnya
sekitar jam 7.45 kita sampai di terminal Wonosobo,disana sudah menunggu tim
dari Surabaya dan Yogyakarta. Mereka sudah menunggu sekitar 1 jam di
terminal, sedangkan mamih Lina dan Om Quncen
menuunggu di daerah Dieng. Setelah sarapan, cuci muka lalu makeup-an tim dari Jakarta dan Surabaya bersiap siap menuju ke
Dieng untuk bertemu dengan mamih Lina dan Om Quncen lalu mengeksplore Dieng bersama
sama. Oh iya, kami sengaja mencharter elf untuk mempermudah akses menuju tempat
wisata di sana.
Setelah sampai di Dieng
gue nyari mamih Lina dan Om Quncen, sedangkan yang lain nunggu di elf. Di sana kami
lost contact karena gak ada sinyal. Tiba tiba ada warga yang menghampiri gue, “mas
mas, nyari temennya yang dari Sindoro yah?“. Gue bilang …”iya pak!!” Kemudian dia menunjuk sebuah warung baso dan ternyata mamih Lina dan Om Quncen sedang
asik membumbui semangkuk basonya yang baru matang. Dan kami pun menunggunya
sampai mereka selesai makan. Beberapa menit kemudian akhirnya kita semua berkumpul.
Orang bilang
tak kenal maka tak sayang ,tak sayang maka tak Cintaaa. Mari kita perkenalkan
makhluk makhluk kece di trip ini
Makhluk pertama bernama Alpin
Soritua sebut aja Alpin sang porter
sejati yang tampan dengan tongkat sakti tongsis-nya. Baik hati, peduli teman, walaupun badannya gembor tapi
kalo tenaga gak perlu diragukan lagi. Ouh iya satu lagi, di pendakian kali ini dia
selalu menjaga Cecil dimanapun berada loh..hihihi
Makhluk cantik pertama yaitu Caecilia, panggil aja Cecil. Cantik, manis dan smart. Siapa sangka gadis
hitam manis secantik dan sefeminim dia hoby-nya maen futsal dan lari, gak ada
yang nyangka kan ?
Makhluk cantik kedua Suci Kadarwati sebut aja Uci. Gadis periang dengan sejuta obsesi
dan ambisi menggapai puncak Mahameru. Banyak orang yang meremehkan dia ketika
di gunung, tapi dengan semangatnya yang luar biasa dia bisa membuktikan kalo dia
bisa seperti yang lain.
Makhluk cantik selanjutnya Aghni Mauludine P, biasa dipanggil Aghni. Terobsesi ingin mengubur kenangan tentang
friendzone-nya dan berharap
mendapat cinta sejatinya di puncak gunung Prau.
Gadis cantik ini sebut aja Aldhila Mega, biasa dipanggil Mega.
Hoby nya nyolong foto orang make
kamera dslr dan hape I Ph*ne nya (gak mau
nyebet merek,kalo ada bayarannya sih gpp). Urusan jepret menjepret serahin aja ama dia.
Dan gadis cantik terakhir bernama Dwi
Aulia Rif’ah, sebut aja Rifa’i *digetok Uli* Oke kita panggil aja dia Ulie. Gadis Cantik, manis, pintar,
kalem , pendiem dan tertutup seakan tak
ingin tersentuh. Gak akan ngomong kalo ga diajak ngomong.
Ini dia yang namanya Lina
dan Om Quncen. Ibu dan bapak
dari anak-anak AWASPALA, bijaksana dan jadi panutan anak anak yang lain.
Dan makhluk manis yang terakhir adalah gue sendiri, Doell. Si hitam manis tanpa bahan pemanis buatan. Kalo masalah
pesona gak perlu diragukan lagi pesona dahsyat gue. Masalah racun meracun trip
gue paling hoby. Gue juga sebagai penggagas trip ke Prau ini
Candi Arjuna
Tujuan pertama kita adalah candi Arjuna. Di tempat ini kita
bisa melihat keindahan peninggalan Candi zaman dulu dengan suasana mistiknya.
Daripada gue cerita panjang lebar tentang keindahan tempat ini mendingan biar
foto aja yang berbicara dan
mengungkapkan keindahannya. Ingat gue cuma menampilkan kebersamaan dan
keindahan, bukan ketampanan, karna gue sadar gue tak tampan *eaaa
| Berlevitasi |
![]() | |||
| Kita dan para penunggu candi |
![]() |
| Megang tongsis aja Cecil gak yakin ama Alpin. Gimana disuruh megang hatinya Cecil... #eeh |
Kawah Sikidang
Langsung aja tanpa blablabla kita liat penampakan kita di
Kawah Sikidang
| Kita dengan latar belakang kawah Sikidang |
| Om Quncen dengan kekasih dan selir-selirnya #eeh |
![]() |
| Kita bersama di kawah Sikidang |
Batu Ratapan Angin
Tempat wisata ini berada di kawasan Dieng Plateu Theater. Dari sini kita cukup mengikuti penunjuk jalan yang menuju ke arah sana, waktu trekking sekitar 10-20 menit dengan jalan agak nanjak kita bisa menikmati pemandang telaga warna dari atas bukit
Tempat wisata ini berada di kawasan Dieng Plateu Theater. Dari sini kita cukup mengikuti penunjuk jalan yang menuju ke arah sana, waktu trekking sekitar 10-20 menit dengan jalan agak nanjak kita bisa menikmati pemandang telaga warna dari atas bukit
| Loket masuk Batu Ratapan Angin |
| Kelakuan si Mega. Mau eksis?? Pake tongsis...! |
![]() |
| Mau pose begini aja taruhannya nyawa. Mundur dikit jooossh...! |
| Neh gue kasih bonus |
| Kelakuan si Mega ngendid ngendid |
| Serius amat si Aghni |
| Kelakuan si Uli, doyan makanin kembang ama rantingnya |
| Keindahan Telaga Warna dilihat dari Batu Ratapan Angin |
Trekking Gunung Prau
Setelah puas mengelilingi Candi Arjuna, Kawah Sikidang, dan
Batu Ratapan Angin kami bersiap siap
untuk trekking ke gunung Prau. Sempat terjadi diskusi yang gak sedikit alot
mengenai jalur mana yang akan kita lewati. Ada dua opsi yaitu lewat yaitu lewat
jalur Dieng atau Patak Banteng. Jika melewati jalur Patak Banteng akan
mempersingkat waktu sekitar 3 jam tapi jalurnya agak curam. Kalo lewat
jalur Dieng membutuhkan waktu agak lama sekitar 4 jam dan lebih landai. Dengan
mepertimbangkan kondisi fisik dan pengalaman teman yang baru pertama kali
mendaki (teman kita Mega), akhirnya
dipilih jalur Dieng.
Pukul 14.00 kami semua mampir ke sebuah warung untuk mengisi amunisi perut dan membeli 3 bungkus nasi untuk makan malam nanti dan sebagian ada yang menjamak sholat. Setelah makan dan sholat gue ama Alpin pergi ke pos pendaftaran pendakian untuk mengurus pendaftaran pendakian. Tepat setelah adzan Ashar kami semua melakukan do’a bersama sebelum persiapan trekking. Do’a dipimpin oleh Alpin ,”sebelum melakukan pendakian alangkah baiknya kita berdoa,semoga selamat sampai puncak dan turun kembali dengan selamat” berdoa dimulai…tapi doa belum selesai mulut gue reflek nyeletuk “ semoga setelah turun dari gunung yang galau bisa move on dan yang jomblo bisa ketemu jodohnya,,aamiiin!!” Kemudian hujatan pun langsung terlontar dari mulut teman2..hahaha.
Pukul 14.00 kami semua mampir ke sebuah warung untuk mengisi amunisi perut dan membeli 3 bungkus nasi untuk makan malam nanti dan sebagian ada yang menjamak sholat. Setelah makan dan sholat gue ama Alpin pergi ke pos pendaftaran pendakian untuk mengurus pendaftaran pendakian. Tepat setelah adzan Ashar kami semua melakukan do’a bersama sebelum persiapan trekking. Do’a dipimpin oleh Alpin ,”sebelum melakukan pendakian alangkah baiknya kita berdoa,semoga selamat sampai puncak dan turun kembali dengan selamat” berdoa dimulai…tapi doa belum selesai mulut gue reflek nyeletuk “ semoga setelah turun dari gunung yang galau bisa move on dan yang jomblo bisa ketemu jodohnya,,aamiiin!!” Kemudian hujatan pun langsung terlontar dari mulut teman2..hahaha.
Cuaca sore itu mendung disertai sedikit rintik gerimis,berjalan perlahan melewati pemukiman penduduk lalu melewati perkebunan penduduk
Alpin yang berjalan dibagian belakang bertugas menjadi sweeper dan gue berjalan di tengah dan
sesekali berjalan di depan untuk memandu jalan. Om Quncen berjalan palling
belakang menemani mamih Lina yang kakinya sedang cedera karena pendakian ke
gunung Sindoro kemarin. Aghni nampaknya sudah mulai lelah, tapi tenang sweeper Alpin selalu siap dalam keadaan
seperti ini
Awal pendakian terasa sangat melelahkan,mungkin baru
pemanasan kali yah makanya pada cepet semua (Kata orang sih awal jalan itu
emang yang paling susah. Tapi lama kelamaan juga enggak). Ada kejadian di luar
nalar akal pikiran manusia. Uci, pendaki yang hobynya ngegelinding *diselengkat Uci* dan sering diremehkan, entah dapet mukjizat
darimana dia jalan uda kaya orang kesetanan sampe sampe gue harus ngejar dia
sambil ngasih isyarat jalan pelan sambil tunggu yang laen. Liat Uci sekuat itu gue ngerasa keajaiban
dunia bukan ada tujuh tapi sekarang uda delapan keajaiban dunia.
Perjalanan semakin sore semakin cerah. Alhamdulillah... mungkin
ini jawaban dari sebuah doa kecil kita agar diberi kemudahan dalam pendakian
ini.
![]() |
| Alpin sang sweeper sejati yang siap menemani |
| Akhirnya bisa ngejar si Uci di pintu P AU (R nya ilang) hehehe |
![]() |
| Saling menunggu dan saling menjaga. Itulah arti sebuah perjalanan |
| Tetep kece dengan butiran keringat |
Mentari di senja yang begitu hangat dengan dibalut dinginnya
semilir angin...begitu kuat dan syahdu sore itu
Perjalanan akhirnya sampai menjelang malam, tiba di menara
pemancar samar-samar terdengar suara adzan magrib. Disana kita melakukan voting
lagi apakah akan mendirikan tenda disana atau melanjutkan perjalanan. Melihat
kondisi angin yang cukup kencang, akhirnya beberapa orang memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Uci, Mega, dan Aghni berjalan lebih dulu disusul gue dan Uli, kemudian di belakang
ada Alpin, Cecil, mamih Lina, dan om Quncen.
Langit malam itu begitu cerah. Lampu-lampu permukiman penduduk di kaki gunung Prau terlihat jelas dari sepanjang jalur dari menara pemancar hingga tempat ngecamp. Di sebelah kanan dan kiri dapat terlihat jelas keindahan kelap kelip lampu permukiman penduduk, dan di atas terlihat jelas gugusan bintang yang menemani perjalanan kami.
Setengah jam perjalanan gue dan Uli akhirnya bisa nyusul Uci, Mega, dan Aghni. Mereka sedang berbaring di bebatuan di tengah jalan. Gue pun akhirnya mengikuti mereka. Lelah dan dingin begitu terasa. Sesekali memejamkan mata dan memandang kearah langit. Ya Allah, begitu indah malam itu,canda gurau para sahabat dibawah langit yang bertaburan jutaan bintang diantara dinginnya malam. This moment is perfect, I hope that it will stay!! Sayang seribu sayang, gak bisa diabadiin moment ini dalam sebuah jepretan foto. Tapi tak apa yang penting terkenang abadi dalam hati.
Langit malam itu begitu cerah. Lampu-lampu permukiman penduduk di kaki gunung Prau terlihat jelas dari sepanjang jalur dari menara pemancar hingga tempat ngecamp. Di sebelah kanan dan kiri dapat terlihat jelas keindahan kelap kelip lampu permukiman penduduk, dan di atas terlihat jelas gugusan bintang yang menemani perjalanan kami.
Setengah jam perjalanan gue dan Uli akhirnya bisa nyusul Uci, Mega, dan Aghni. Mereka sedang berbaring di bebatuan di tengah jalan. Gue pun akhirnya mengikuti mereka. Lelah dan dingin begitu terasa. Sesekali memejamkan mata dan memandang kearah langit. Ya Allah, begitu indah malam itu,canda gurau para sahabat dibawah langit yang bertaburan jutaan bintang diantara dinginnya malam. This moment is perfect, I hope that it will stay!! Sayang seribu sayang, gak bisa diabadiin moment ini dalam sebuah jepretan foto. Tapi tak apa yang penting terkenang abadi dalam hati.
Rombongan Alpin akhir nya menyusul dan kami semua melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai juga di savana yang begitu luas dan cocok untuk tempat
camping Tapi merasa terlalu jauh dari puncak akhirnya dirundingkan lagi apakah mau
lanjut atau mendirikan tenda di sini.
Setelah dipertimbankan kembali, akhirnya kami semua mendirikan tenda di savana dengan pertimbangan angin yang ada di savana tidak terlalu kencang karena terhalangi oleh sisi gunung.
Bongkar cariel, pasang tenda, dan masak. Om Quncen mendirkan tenda dengan dibantu oleh mamih Lina, Alpin dibantu oleh Cecil, dan gue sendiri mendirikan tenda dibantu ama Uli. Mega, Aghni, dan Uci bertugas memasak. Akhirnya tiga tenda beserta dua flysheet berdiri dengan kokoh. Setelah semuanya selesai akhirnya kita makan di bawah flysheet tenda. Nikmat sekali makan malam saat itu. Mungkin efek laper kale yah. Hahaha..
Malam semakin larut. Dinginnya itu loh berasa ampe tulang lapisan terdalam *halaah. Mega yang dari awal ingin mengabadikan milkyway (gugusan bintang) malam itu dengan kamera hanya jadi angan angan belaka, karena dia gak kuat dengan dinginnya malam itu. Akhirnya semuanya pada masuk ke tenda masing-masing. Di dalam tenda pun gue gak bisa tidur, padahal ngantuk, lelah, kaki keram, ditambah kedinginan hebat sampe-sampe gue dikira hypo. Cecil dan Uci pun udah siap-siap mau nabokin gue (FYI, kalo orang hypothermia jangan sampe dibiarin tertidur. Makanya kalo bisa ditampar biar tetep sadar). Hadeeeh sempurna banget dah penderitaan gue malem itu. Tapi ada aja kelakuan temen dalem tenda waktu itu untuk menghangatkan suasana.
Bongkar cariel, pasang tenda, dan masak. Om Quncen mendirkan tenda dengan dibantu oleh mamih Lina, Alpin dibantu oleh Cecil, dan gue sendiri mendirikan tenda dibantu ama Uli. Mega, Aghni, dan Uci bertugas memasak. Akhirnya tiga tenda beserta dua flysheet berdiri dengan kokoh. Setelah semuanya selesai akhirnya kita makan di bawah flysheet tenda. Nikmat sekali makan malam saat itu. Mungkin efek laper kale yah. Hahaha..
Malam semakin larut. Dinginnya itu loh berasa ampe tulang lapisan terdalam *halaah. Mega yang dari awal ingin mengabadikan milkyway (gugusan bintang) malam itu dengan kamera hanya jadi angan angan belaka, karena dia gak kuat dengan dinginnya malam itu. Akhirnya semuanya pada masuk ke tenda masing-masing. Di dalam tenda pun gue gak bisa tidur, padahal ngantuk, lelah, kaki keram, ditambah kedinginan hebat sampe-sampe gue dikira hypo. Cecil dan Uci pun udah siap-siap mau nabokin gue (FYI, kalo orang hypothermia jangan sampe dibiarin tertidur. Makanya kalo bisa ditampar biar tetep sadar). Hadeeeh sempurna banget dah penderitaan gue malem itu. Tapi ada aja kelakuan temen dalem tenda waktu itu untuk menghangatkan suasana.
Sunrise Prau
Setting alarm jam 4 pagi tapi jam 1 malem alarm uda
bunyi, kelakuan si Uci itu *tabokin Uci*. Gara gara alarm yang nyolong start, ditambah
suara tenda tetangga yang ngobrol semalem suntuk akhirnya gak bisa tidur. Yaudah
terpaksa begadang ampe pagi. Jam 3 pagi keluar tenda tapi masih sepi dan berasa
dingin. Tapi ada juga beberapa pendaki lain yang melintas untuk melihat sunrise
di puncak Prau. Gue dan uci mulai merebus air untuk sekedar membuat teh hangat
dan dua mangkuk pudding. Setelah teh dan
pudding sudah siap, satu persatu penghuni tenda gue bangunin untuk persiapan
liat sunrise. Setelah semuanya siap, kita berjalan menuju ke puncak Prau. Mamih
Lina dan om Quncen bilang mereka akan menyusul tapi nyatanya mereka tidak
menyusul (mungkin mereka lelah).
Sepanjang perjalanan ke puncak Prau terlihat banyak sekali tenda pendaki lain. Udah kaya pasar malem. Setengah jam perjalanan akhirnya kita sampai di puncak dan pemandangan disana indahnya kebangetan. Menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan Prau dan diiringi lagu favorite “Rahasia Hati” nya Nidji itu rasanya something banget. Entah dia tau atau tidak tapi biarlah menjadi Rahasia di hati…eaaaaa
Sepanjang perjalanan ke puncak Prau terlihat banyak sekali tenda pendaki lain. Udah kaya pasar malem. Setengah jam perjalanan akhirnya kita sampai di puncak dan pemandangan disana indahnya kebangetan. Menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan Prau dan diiringi lagu favorite “Rahasia Hati” nya Nidji itu rasanya something banget. Entah dia tau atau tidak tapi biarlah menjadi Rahasia di hati…eaaaaa
| Sunrise di gunung Prau dengan background gunung Sumbing dan Sindoro |
| Sunrise yang gak bisa gue nikmatin setiap hari |
![]() |
| Romantis itu.... *uhuuuuk* |
| Masih terasa dingin meskipun mentari pagi telah datang menggantikan rembulan |
| Gue dan Alpin bersama gunung Sumbing dan Sindoro |
| Enjoy the view |
| Dari kanan ada Cecil, Mega, Uci, Uli, Aghni, Sindoro, dan Sumbing |
![]() |
| Kita bersama selfie |
![]() |
| Pangeran berkuda putih dengan para selirnya *eaaaa* |
Gak kerasa matahari uda mulai terik. Kamipun segera kembali ke tenda. Alpin dan Cecil turun lebih dulu, katanya sih pengen buru-buru masak cireng yang dibawa ama Alpin, ”katanya”. Disusul Uci dan Aghni, tapi gue, Uli, dan Mega masih asik dengan kamera dan pemandangan. Gak mau buru buru-turun dan rasanya belum bisa move on dari tempat ini. Buat gue sih yang penting enjoii de piuu.
| Enjoii de piuuuuu |
Setelah sampai tenda ternyata makanan uda mateng
semua, addduh jadi enak..hahaa. Pagi itu kita semua makan besar. Ada
sup, pudding, cireng, nugget, mie rebus, mie goreng,dan buah melon. sempurna banget
dah rasanya hidup.
Sepucuk Rindu di
terminal Wonosobo
Setelah sarapan selesai, kita bersiap-siap packing untuk
turun. Seperti biasa adegan voting pun terulang lagi. Voting untuk menentukan
jalur mana yang akan kita tempuh. Jalur Patak Banteng atau jalur Dieng, dan
akhirnya jalur Dieng lah yang kami pilih karena terlalu berisiko kalo turun
dari patak banteng yang lebih curam. Setelah packing selesai tepat pukul 10
pagi kami semua pun segera meninggalkan tempat ini. Ternyata pemandangan jalur
Dieng ini bener bener kereen, bikin susah move on dari tempat ini. Ucim Alpin,
dan Cecil jalan lebih dulu, disusul mamih Lina dan om Quncen, sedangkan gue,
Uli, Mega, dan Aghni seperti biasa selalu tertinggal dengan alasan mengabadikan
tempat ini dengan jepretan kamera,,enjoii
de piu.
Uci dari awal naik dan turun ternyata luar biasa semangatnya, kami semua tertinggal jauh. Perjalanan turun kali ini lebih santai sambil ngobrol ngalor ngidul ditambah kelakuan si Aghni yang gagal modusin pendaki cowok kece yang lewat depan dia..ckkck
Uci dari awal naik dan turun ternyata luar biasa semangatnya, kami semua tertinggal jauh. Perjalanan turun kali ini lebih santai sambil ngobrol ngalor ngidul ditambah kelakuan si Aghni yang gagal modusin pendaki cowok kece yang lewat depan dia..ckkck
![]() |
| Efek gagal modus, Aghni ampe guling-gulingan (liat celananya kotor abis ngesot) |
![]() |
| Mega, Uli, Aghni, gue, dan selfie |
Sekitar Jam 1 siang
nyampe di base camp dieng. Di sana sudah ada Alpin yang uda nunggu
Mega, Uli, Aghni dan gue. Tapi di sana gue gak liat om Quncen dan mamih Lina. Gue
telfon mereka ternyata mereka melipir ke salah satu warung nasi *mulai lapar*
Setelah semua kumpul, kamipun segera menyetop elf untuk
mengantarkan kami ke terminal. Tapi kami minta kepada supir untuk mampir di
daerah patak banteng untuk membeli oleh-oleh.
Oleh-oleh khas dieng adalah buah carica, yang biasa dikemas dalam bentuk manisan. Carica ini semacam pepaya tapi ukurannya lebih kecil. Kata orang sih pepaya Dieng.
Setengah perjalanan menuju ke terminal, perut gue ngerasa mual. Entah gue yang norak atau badan gue yang gak cocok naek angkutan rakyat jelata *langsung dislengkat*. Akhirnya gue habiskan waktu di elf dengan bobo manis.
Oleh-oleh khas dieng adalah buah carica, yang biasa dikemas dalam bentuk manisan. Carica ini semacam pepaya tapi ukurannya lebih kecil. Kata orang sih pepaya Dieng.
![]() |
| Carica, oleh-oleh khas Dieng |
Setengah perjalanan menuju ke terminal, perut gue ngerasa mual. Entah gue yang norak atau badan gue yang gak cocok naek angkutan rakyat jelata *langsung dislengkat*. Akhirnya gue habiskan waktu di elf dengan bobo manis.
Sekitar jam 14.30 kita semua sampai di terminal, kaget dan merasa
jetlag habis melakukan perjalanan yang amat begitu lama dan menyiksa di dalam
elf...*halaaah*. Belom sadar dari mimpi buruk udah ditagih ongkos ama sang
bendahara Uci. Setelah urusan ongkos selesai sebagian ada yang ke kamar
kecil, mamih Lina dan om Quncen berpamitan pulang duluan karena mengejar jadwal
keberangkatan kereta yang sudah mereka pesan. Gue dan Mega langsung
mencari tiket bus ke Surabaya untuk Mega dan Uli. Lontang lantung ke agen bus
takut kehabisan tiket dan ternyata benar, bus jurusan Surabaya sudah habis
semua. Yasudah diputuskan untuk ngeteng naek bus ke Surabaya dari Magelang.
Entah perasaan apa yang membuat hati merasa berat untuk
melepas kepergian mereka, seperti ada yang mengganjal untuk berpisah. Tak ada
satupun kata yang terucap ketika menunggu waktu untuk saling berpisah, punya
penyakit asma pun enggak tapi dada rasanya nyesek banget dan sulit buat
nafas. Hanya bisa menahan tiap kata yang ingin terucap. Ingin rasanya teriak
“jangan pergi!!” tapi apa daya mulut seakan terkunci *oke ini lebay,abaykan*. Dan
akhirnya angkutan jurusan Magelang pun datang. Selamat jalan kawan, sampai
bertemu kembali di lain waktu. Perasaaan udah lega karna mereka sudah mendapatkan mobil tapi
perasaan gak bisa bohong, seperti ada yang hilang tapi entah itu apa.
Setelah tim Surabaya dan Jogya pergi, gue berkumpul dengan teman yang lain, dan akhirnya Alpin dan Cecil pamit lebih dulu karena mereka beda bis. Mereka ke Bogor, sedangkan gue dan Uci ke Jakarta. Makin sedih donk gue ditinggalin gitu aja. Kemudian gue dan Uci pun naek ke bis buat melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Ouh iya kalo ada yang minat kesana gue kasih rincian
biayanya neh
- Tiket bis pp Jakarta-Wonosobo Rp 180000
- Elf dari terminal ke perapatan tempat ngetem elf ke Dieng Rp 2000
- Elf dari perempatan ke Dieng Rp 15000 (klo kmren sih nyarter 9 orang Rp 360000 dr perapatan sampe keliling wisata di Dieng)
- Makan di terminal dan tempat wisata di Dieng gak lebih dari Rp 40000(sesuai selera)
- Logistic buat di Prau Rp 40000 (sesuai selera)
- Elf dari Dieng ke terminal Rp 15000
- Simaksi Prau Rp 4000
- Oleh oleh Rp 50000 (sesuai selera)
-




























