Kita dan Prau


Kejenuhan akan rutinitas pekerjaan bikin pikiran dan hati jadi mumet,dan hasilnya perkembangan otakpun jadi terganggu. Dari situ muncullah ide buat cari tempat pelarian,dan tiba tiba terlintas sebuah tempat yang menurut gue sangat pas yaitu Gunung Prau.  Sebenernya gue uda bosen ama tempat ini,maklumlah uda 4 kali, uda 4 kali gue rencanain ke tempat ini tapi gagal terus makanya gue bosen*(pisomanapiso). Dan gue bertekad kali ini harus kesana dan GAK BOLEH GAGAL lagi.

Sekedar informasi  Gunung Prau itu terletak di daerah dataran tinggi Dieng kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Banyak akses menuju ke sana,kalo dari Jakarta bisa naek bus langsung ke terminal Wonosobo atau naek kereta turun di stasiun Purwokerto lalu lanjut lagi menuju ke Wonosobo naek bus sekitar 2-3 jam. Dari daerah laen juga sama,dari kota masing masing bisa langsung menuju ke terminal Wonosobo.

Oke langkah awal gue nyoba racunin temen-temen di kumunitas AWASPALA (Asosiasi Wana Satria Pecinta Alam) dan buka forum backpacker buat cari temen,pacar atau pasangan hidup yang mau nemenin gue ke sana.*(lol..oke abaykan) !!. Beberapa hari kemudian akhirnya terkumpullah makhluk makhluk kece dari AWASPALA, ada Alpin dan Suci, mereka jadi yang pertama yang ingin bergabung dengan trip ini. Kurang seru rasanya kalo yang ikut cuma bertiga. Akhirnya racunpun gue tebar kembali dan bertambah 4 orang lagi. Mega dari Surabaya, Aghni dari Jogya, Cecil dari anggota AWASPALA dan yang terakhir Ulii dari Surabaya.

Jumat,30 Maret 2014
Perjalanan ke Wonosobo
Hari itu adalah hari terakhir masuk kerja di akhir pekan,uring uringan ditempat kerja gara-gara gak sabar pengen cepet-cepet pulang terus pergi ke terminal buat ketemu temen-temen awaspala tercinta *tsaah. Kerja  dari jam 7 pagi ke jam 12 siang itu berasa lama banget (ya jelas lama lah,jarum jamnya naek ke atas coba turun kebawah pasti cepet *lol),kerja jadi gak fokus sambil mantengin group whatsapp Prau buat ngabarin persiapan keberangkatan. Alpin yang domisili di Bogor menuju meeting point di terminal Tanjung Priuk berangkat setelah solat Jumat dan alhasil dia nunggu temen temen yang lain dari jam 3 sore sampe jam 5 sore*(maaf yah Alpin). Dua jam menunggu akhirnya 2 bidadari cantik muncul  dengan supir Ojeknya yaitu Cecil dan Suci disusul pangeran berkuda putih Doell*(silahkan dihujat). Setelah semuanya berkumpul kami pun berpelukan (oke ini lebay,abaykan). Sedangkan tim dari Surabaya Mega dan Uli melakukan perjalanan malam hari setelah pulang kerja dan kuliah, sedangkan Aghni yang dari Yogyakarta berangkat pagi hari. 

Oke akhirnya bis tim dari Jakarta pun berangkat jam setengah 6 sore melewati hiruk pikuk kendaraan ibukota yang maceet. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan obrolan obrolan ngalor ngidul dari canda tawa banyolan banyolan sampai sesi curhat tentang asam manis cinta ,,hahahaha. Lagi asik ngobrol tiba2 mamih Lina menelfon Alpin, dia bilang ingin bergabung bersama kami dan menunggu di Wonosobo bersama sang kekasih tercinta Om Quncen. Lina dan om Quncen sebelumnya sudah mendaki ke gunung Sindoro dan ingin lanjut bersama kami ke gunung Prau.  

Tidak terasa waktu sudah larut, dinginnya AC pun makin menjadi jadi ditambah guyuran hujan tapi Cecil gak kehabisan akal untuk mengatasi dinginnya malam itu,taraaaaa… digelarlah bantal dan sleeping bag hangatnya..hahaa,,ada ada aja kelakuan Cecil. Tapi gakpapa deh dari pada hypothermia di dalem bis kan gak lucu.

Sabtu,31 Mei 2014
Mentari pagi di terminal Mendolo, Wonosobo
Waktu menunjukan jam 7.30 gue langsung kasih kabar ke tim dari Surabaya dan Yogyakata kalo sebentar lagi akan tiba di terminal, tapi teman kita Cecil dan Suci masih terlelap berbalut sleping bag hangatnya




Dan akhirnya sekitar jam 7.45 kita sampai di terminal Wonosobo,disana sudah menunggu tim dari Surabaya dan Yogyakarta. Mereka sudah menunggu sekitar 1 jam di terminal, sedangkan  mamih Lina dan Om Quncen menuunggu di daerah Dieng. Setelah sarapan, cuci muka lalu makeup-an tim dari Jakarta dan Surabaya bersiap siap menuju ke Dieng untuk bertemu dengan mamih Lina dan Om Quncen lalu mengeksplore Dieng bersama sama. Oh iya, kami sengaja mencharter elf untuk mempermudah akses menuju tempat wisata  di sana. 

Setelah sampai di Dieng gue nyari mamih Lina dan Om Quncen, sedangkan yang lain nunggu di elf. Di sana kami lost contact karena gak ada sinyal. Tiba tiba ada warga yang menghampiri gue, “mas mas, nyari temennya yang dari Sindoro yah?“. Gue bilang …”iya pak!!” Kemudian dia menunjuk sebuah warung baso dan ternyata mamih Lina dan Om Quncen sedang asik membumbui semangkuk basonya yang baru matang. Dan kami pun menunggunya sampai mereka selesai makan. Beberapa menit kemudian akhirnya kita semua berkumpul.

Orang bilang tak kenal maka tak sayang ,tak sayang maka tak Cintaaa. Mari kita perkenalkan makhluk makhluk kece di trip ini



Makhluk pertama bernama Alpin Soritua sebut aja Alpin sang porter sejati yang tampan dengan tongkat sakti tongsis-nya.  Baik hati, peduli teman, walaupun badannya gembor tapi kalo tenaga gak perlu diragukan lagi. Ouh iya satu lagi, di pendakian kali ini dia selalu menjaga  Cecil  dimanapun  berada loh..hihihi

 Makhluk cantik pertama yaitu Caecilia, panggil aja Cecil.  Cantik, manis dan smart. Siapa sangka gadis hitam manis secantik dan sefeminim dia hoby-nya maen futsal dan lari, gak ada yang nyangka kan ? 

 Makhluk cantik kedua Suci Kadarwati sebut aja Uci. Gadis periang dengan sejuta obsesi dan ambisi menggapai puncak Mahameru. Banyak orang yang meremehkan dia ketika di gunung, tapi dengan semangatnya yang luar biasa dia bisa membuktikan kalo dia bisa seperti yang lain.
 


Makhluk cantik selanjutnya Aghni Mauludine P, biasa dipanggil Aghni. Terobsesi ingin mengubur kenangan tentang  friendzone-nya dan berharap mendapat cinta sejatinya di puncak gunung Prau.

 Gadis cantik ini sebut aja Aldhila Mega, biasa dipanggil Mega. Hoby nya nyolong foto orang make kamera dslr dan hape I Ph*ne nya (gak mau nyebet merek,kalo ada bayarannya sih gpp). Urusan jepret menjepret serahin aja ama dia.
 



Dan gadis cantik terakhir bernama  Dwi Aulia Rif’ah, sebut  aja Rifa’i *digetok Uli* Oke kita panggil aja dia Ulie. Gadis Cantik, manis, pintar, kalem , pendiem dan  tertutup seakan tak ingin tersentuh. Gak akan ngomong kalo ga diajak ngomong.

Ini dia yang namanya Lina dan Om Quncen. Ibu dan bapak dari anak-anak AWASPALA, bijaksana dan jadi panutan anak anak yang lain.

Dan makhluk manis yang terakhir adalah gue sendiri, Doell. Si hitam manis tanpa bahan pemanis buatan. Kalo masalah pesona gak perlu diragukan lagi pesona dahsyat gue. Masalah racun meracun trip gue paling hoby. Gue juga sebagai penggagas trip ke Prau ini

Candi Arjuna
Tujuan pertama kita adalah candi Arjuna. Di tempat ini kita bisa melihat keindahan peninggalan Candi zaman dulu dengan suasana mistiknya. Daripada gue cerita panjang lebar tentang keindahan tempat ini mendingan biar foto aja yang berbicara dan mengungkapkan keindahannya. Ingat gue cuma menampilkan kebersamaan dan keindahan, bukan ketampanan, karna gue sadar gue tak tampan *eaaa
 
Begaya dulu sebelom ke candi Arjuna
Berlevitasi
Kita dan para penunggu candi


 
Megang tongsis aja Cecil gak yakin ama Alpin. Gimana disuruh megang hatinya Cecil... #eeh

Kawah Sikidang
Langsung aja tanpa blablabla kita liat penampakan kita di Kawah Sikidang
Kita dengan latar belakang kawah Sikidang

Om Quncen dengan kekasih dan selir-selirnya #eeh
Kita bersama di kawah Sikidang

Batu Ratapan Angin


Tempat wisata ini berada di kawasan Dieng Plateu Theater. Dari sini kita cukup mengikuti penunjuk jalan yang menuju ke arah sana, waktu trekking sekitar 10-20 menit dengan jalan agak nanjak kita bisa menikmati pemandang telaga warna dari atas bukit
Loket masuk Batu Ratapan Angin
 
Kelakuan si Mega. Mau eksis?? Pake tongsis...!
 
Apalah arti selfie tanpa tongsis
Mau pose begini aja taruhannya nyawa. Mundur dikit jooossh...!
Neh gue kasih bonus


Kelakuan si Mega ngendid ngendid
Serius amat si Aghni
Kelakuan si Uli, doyan makanin kembang ama rantingnya


Keindahan Telaga Warna dilihat dari Batu Ratapan Angin
Trekking Gunung Prau
Setelah puas mengelilingi Candi Arjuna, Kawah Sikidang, dan Batu Ratapan Angin kami bersiap  siap untuk trekking ke gunung Prau. Sempat terjadi diskusi yang gak sedikit alot mengenai jalur mana yang akan kita lewati. Ada dua opsi yaitu lewat yaitu lewat jalur Dieng atau Patak Banteng. Jika melewati jalur Patak Banteng akan mempersingkat waktu sekitar 3 jam tapi jalurnya agak curam. Kalo lewat jalur Dieng membutuhkan waktu agak lama sekitar 4 jam dan lebih landai. Dengan mepertimbangkan kondisi fisik dan pengalaman teman yang baru pertama kali mendaki (teman kita Mega), akhirnya dipilih jalur Dieng. 

Pukul 14.00 kami semua mampir ke sebuah warung untuk mengisi amunisi perut dan membeli 3 bungkus nasi untuk makan malam nanti dan sebagian ada yang menjamak  sholat. Setelah makan dan sholat gue ama Alpin pergi ke pos pendaftaran pendakian untuk mengurus pendaftaran pendakian. Tepat setelah adzan Ashar kami semua melakukan do’a bersama sebelum persiapan trekking. Do’a dipimpin oleh Alpin ,”sebelum melakukan pendakian alangkah baiknya kita berdoa,semoga selamat sampai puncak dan turun kembali dengan selamat” berdoa dimulai…tapi doa belum selesai mulut gue reflek nyeletuk “ semoga setelah turun dari gunung yang galau bisa move on dan yang jomblo bisa ketemu jodohnya,,aamiiin!!”  Kemudian hujatan pun langsung terlontar dari mulut teman2..hahaha.

Cuaca sore itu mendung disertai sedikit rintik gerimis,berjalan perlahan melewati pemukiman penduduk lalu melewati perkebunan penduduk
 
Ini dia penampakan gadis kece
Alpin yang berjalan dibagian belakang bertugas menjadi sweeper dan gue berjalan di tengah dan sesekali berjalan di depan untuk memandu jalan. Om Quncen berjalan palling belakang menemani mamih Lina yang kakinya sedang cedera karena pendakian ke gunung Sindoro kemarin. Aghni nampaknya sudah mulai lelah, tapi tenang sweeper Alpin selalu siap dalam keadaan seperti ini
Alpin sang sweeper sejati yang siap menemani
Awal pendakian terasa sangat melelahkan,mungkin baru pemanasan kali yah makanya pada cepet semua (Kata orang sih awal jalan itu emang yang paling susah. Tapi lama kelamaan juga enggak). Ada kejadian di luar nalar akal pikiran manusia. Uci, pendaki yang hobynya ngegelinding *diselengkat Uci*  dan sering diremehkan, entah dapet mukjizat darimana dia jalan uda kaya orang kesetanan sampe sampe gue harus ngejar dia sambil ngasih isyarat jalan pelan sambil tunggu yang laen.   Liat Uci sekuat itu gue ngerasa keajaiban dunia bukan ada tujuh tapi sekarang uda delapan keajaiban dunia.
Akhirnya bisa ngejar si Uci di pintu P AU (R nya ilang) hehehe
Saling menunggu dan saling menjaga. Itulah arti sebuah perjalanan
Perjalanan semakin sore semakin cerah. Alhamdulillah... mungkin ini jawaban dari sebuah doa kecil kita agar diberi kemudahan dalam pendakian ini.
Tetep kece dengan butiran keringat
Mentari di senja yang begitu hangat dengan dibalut dinginnya semilir angin...begitu kuat dan syahdu sore itu
Sunset di perjalanan menuju puncak gunung Prau
Perjalanan akhirnya sampai menjelang malam, tiba di menara pemancar samar-samar terdengar suara adzan magrib. Disana kita melakukan voting lagi apakah akan mendirikan tenda disana atau melanjutkan perjalanan. Melihat kondisi angin yang cukup kencang, akhirnya beberapa orang memilih untuk melanjutkan perjalanan. Uci, Mega, dan Aghni berjalan lebih dulu disusul gue dan Uli, kemudian di belakang ada Alpin, Cecil, mamih Lina, dan om Quncen. 

Langit malam itu begitu cerah. Lampu-lampu permukiman penduduk di kaki gunung Prau terlihat jelas dari sepanjang jalur dari menara pemancar hingga tempat ngecamp.  Di sebelah kanan dan kiri dapat terlihat jelas keindahan kelap kelip lampu permukiman penduduk, dan di atas terlihat jelas gugusan bintang yang menemani perjalanan kami.

Setengah jam perjalanan gue dan Uli akhirnya bisa nyusul Uci, Mega, dan Aghni. Mereka sedang berbaring di bebatuan di tengah jalan. Gue pun akhirnya mengikuti mereka. Lelah dan dingin begitu terasa. Sesekali memejamkan mata dan memandang kearah langit. Ya Allah, begitu indah malam itu,canda gurau para sahabat dibawah langit yang bertaburan jutaan bintang diantara dinginnya malam. This moment is perfect, I hope that it will stay!! Sayang seribu sayang, gak bisa diabadiin moment ini dalam sebuah jepretan foto. Tapi tak apa yang penting terkenang abadi dalam hati.
Rombongan Alpin akhir nya menyusul  dan kami semua melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai juga di savana yang begitu luas dan cocok untuk tempat camping Tapi merasa terlalu jauh dari puncak akhirnya dirundingkan lagi apakah mau lanjut atau mendirikan tenda di sini. Setelah dipertimbankan kembali, akhirnya kami semua mendirikan tenda di savana dengan pertimbangan angin yang ada di savana tidak terlalu kencang karena terhalangi oleh sisi gunung. 

Bongkar cariel, pasang tenda, dan masak. Om Quncen mendirkan tenda dengan dibantu oleh mamih Lina, Alpin dibantu oleh Cecil, dan gue sendiri mendirikan tenda dibantu ama Uli. Mega, Aghni, dan Uci bertugas memasak. Akhirnya tiga tenda beserta dua flysheet berdiri dengan kokoh. Setelah semuanya selesai akhirnya kita makan di bawah flysheet tenda. Nikmat sekali makan malam saat itu. Mungkin efek laper kale yah. Hahaha.. 

Malam semakin larut. Dinginnya itu loh berasa ampe tulang lapisan terdalam *halaah. Mega yang dari awal ingin mengabadikan milkyway (gugusan bintang) malam itu dengan kamera hanya jadi angan angan belaka, karena dia gak kuat dengan dinginnya malam itu. Akhirnya semuanya pada masuk ke tenda masing-masing. Di dalam tenda pun gue  gak bisa tidur, padahal ngantuk, lelah, kaki keram, ditambah kedinginan hebat sampe-sampe gue dikira hypo. Cecil dan Uci pun udah siap-siap mau nabokin gue (FYI, kalo orang hypothermia jangan sampe dibiarin tertidur. Makanya kalo bisa ditampar biar tetep sadar). Hadeeeh sempurna banget dah penderitaan gue malem itu. Tapi ada aja kelakuan temen dalem tenda waktu itu untuk menghangatkan suasana. 

Sunrise Prau
Setting alarm jam 4 pagi tapi jam 1 malem alarm uda bunyi, kelakuan si Uci itu *tabokin Uci*. Gara gara alarm yang nyolong start, ditambah suara tenda tetangga yang ngobrol semalem suntuk akhirnya gak bisa tidur. Yaudah terpaksa begadang ampe pagi. Jam 3 pagi keluar tenda tapi masih sepi dan berasa dingin. Tapi ada juga beberapa pendaki lain yang melintas untuk melihat sunrise di puncak Prau. Gue dan uci mulai merebus air untuk sekedar membuat teh hangat dan dua mangkuk pudding. Setelah teh  dan pudding sudah siap, satu persatu penghuni tenda gue bangunin untuk persiapan liat sunrise. Setelah semuanya siap, kita berjalan menuju ke puncak Prau. Mamih Lina dan om Quncen bilang mereka akan menyusul tapi nyatanya mereka tidak menyusul (mungkin mereka lelah). 

Sepanjang perjalanan ke puncak Prau terlihat banyak sekali tenda pendaki lain. Udah kaya pasar malem. Setengah jam perjalanan akhirnya kita sampai di puncak dan pemandangan disana indahnya kebangetan. Menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan Prau dan diiringi lagu favorite “Rahasia Hati” nya Nidji itu rasanya something banget. Entah dia tau atau tidak tapi biarlah menjadi Rahasia di hati…eaaaaa
Sunrise di gunung Prau dengan background gunung Sumbing dan Sindoro
Sunrise yang gak bisa gue nikmatin setiap hari
Romantis itu.... *uhuuuuk*
Masih terasa dingin meskipun mentari pagi telah datang menggantikan rembulan
Gue dan Alpin bersama gunung Sumbing dan Sindoro
Enjoy the view
Dari kanan ada Cecil, Mega, Uci, Uli, Aghni, Sindoro, dan Sumbing


Kita bersama selfie


Pangeran berkuda putih dengan para selirnya *eaaaa*

Gak kerasa matahari uda mulai terik. Kamipun segera kembali ke tenda. Alpin dan Cecil turun lebih dulu, katanya sih pengen buru-buru masak cireng yang dibawa ama Alpin, ”katanya”. Disusul Uci dan Aghni, tapi gue, Uli, dan Mega masih asik dengan kamera dan pemandangan. Gak mau buru buru-turun dan rasanya belum bisa move on dari tempat ini. Buat gue sih yang penting enjoii de piuu. 
 
Enjoii de piuuuuu
Setelah sampai tenda ternyata makanan uda mateng semua, addduh jadi enak..hahaa. Pagi itu kita semua makan besar. Ada sup, pudding, cireng, nugget, mie rebus, mie goreng,dan buah melon. sempurna banget dah rasanya hidup. 

Sepucuk Rindu di terminal Wonosobo
Setelah sarapan selesai, kita bersiap-siap packing untuk turun. Seperti biasa adegan voting pun terulang lagi. Voting untuk menentukan jalur mana yang akan kita tempuh. Jalur Patak Banteng atau jalur Dieng, dan akhirnya jalur Dieng lah yang kami pilih karena terlalu berisiko kalo turun dari patak banteng yang lebih curam. Setelah packing selesai tepat pukul 10 pagi kami semua pun segera meninggalkan tempat ini. Ternyata pemandangan jalur Dieng ini bener bener kereen, bikin susah move on dari tempat ini. Ucim Alpin, dan Cecil jalan lebih dulu, disusul mamih Lina dan om Quncen, sedangkan gue, Uli, Mega, dan Aghni seperti biasa selalu tertinggal dengan alasan mengabadikan tempat ini dengan jepretan kamera,,enjoii de piu.

Uci dari awal naik dan turun ternyata luar biasa semangatnya, kami semua tertinggal jauh. Perjalanan turun kali ini lebih santai sambil ngobrol ngalor ngidul ditambah kelakuan si Aghni yang gagal modusin pendaki cowok kece yang lewat depan dia..ckkck
Efek gagal modus, Aghni ampe guling-gulingan (liat celananya kotor abis ngesot)

Mega, Uli, Aghni, gue, dan selfie
Sekitar Jam 1 siang  nyampe di base camp dieng. Di sana sudah ada Alpin yang uda nunggu Mega, Uli, Aghni dan gue. Tapi di sana gue gak liat om Quncen dan mamih Lina. Gue telfon mereka ternyata mereka melipir ke salah satu warung nasi *mulai lapar*
Setelah semua kumpul, kamipun segera menyetop elf untuk mengantarkan kami ke terminal. Tapi kami minta kepada supir untuk mampir di daerah patak banteng untuk membeli oleh-oleh. 
Oleh-oleh khas dieng adalah buah carica, yang biasa dikemas dalam bentuk manisan. Carica ini semacam pepaya tapi ukurannya lebih kecil. Kata orang sih pepaya Dieng.
Carica, oleh-oleh khas Dieng


 Setengah perjalanan menuju ke terminal, perut gue ngerasa mual. Entah gue yang norak atau badan gue yang gak cocok naek angkutan rakyat jelata *langsung dislengkat*. Akhirnya gue habiskan waktu di elf dengan bobo manis.
Sekitar jam 14.30 kita semua sampai di terminal, kaget dan merasa jetlag habis melakukan perjalanan yang amat begitu lama dan menyiksa di dalam elf...*halaaah*. Belom sadar dari mimpi buruk udah ditagih ongkos ama sang bendahara Uci. Setelah urusan ongkos selesai sebagian ada yang ke kamar kecil, mamih Lina dan om Quncen berpamitan pulang duluan karena mengejar jadwal keberangkatan kereta yang sudah mereka pesan. Gue dan Mega langsung mencari tiket bus ke Surabaya untuk Mega dan Uli. Lontang lantung ke agen bus takut kehabisan tiket dan ternyata benar, bus jurusan Surabaya sudah habis semua. Yasudah diputuskan untuk ngeteng naek bus ke Surabaya dari Magelang. 
Entah perasaan apa yang membuat hati merasa berat untuk melepas kepergian mereka, seperti ada yang mengganjal untuk berpisah. Tak ada satupun kata yang terucap ketika menunggu waktu untuk saling berpisah, punya penyakit asma pun enggak tapi dada rasanya nyesek banget dan sulit buat nafas. Hanya bisa menahan tiap kata yang ingin terucap. Ingin rasanya teriak “jangan pergi!!” tapi apa daya mulut seakan terkunci *oke ini lebay,abaykan*.  Dan akhirnya angkutan jurusan Magelang pun datang. Selamat jalan kawan, sampai bertemu kembali di lain waktu. Perasaaan udah lega karna mereka sudah mendapatkan mobil tapi perasaan gak bisa bohong, seperti ada yang hilang tapi entah itu apa.

Setelah tim Surabaya dan Jogya pergi, gue berkumpul dengan teman yang lain, dan akhirnya Alpin dan Cecil pamit lebih dulu karena mereka beda bis. Mereka ke Bogor, sedangkan gue dan Uci ke Jakarta. Makin sedih donk gue ditinggalin gitu aja. Kemudian gue dan Uci pun naek ke bis buat melanjutkan perjalanan ke Jakarta.



Ouh iya kalo ada yang minat kesana gue kasih rincian biayanya neh
  • Tiket bis pp Jakarta-Wonosobo Rp 180000
  • Elf dari terminal ke perapatan tempat ngetem elf ke Dieng Rp 2000
  • Elf dari perempatan ke Dieng Rp 15000 (klo kmren sih nyarter 9 orang Rp 360000 dr perapatan sampe keliling wisata di Dieng)
  • Makan di terminal dan tempat wisata di Dieng gak lebih dari Rp 40000(sesuai selera)
  • Logistic buat di Prau Rp 40000 (sesuai selera)
  • Elf dari Dieng ke terminal Rp 15000
  • Simaksi Prau Rp 4000
  • Oleh oleh Rp 50000 (sesuai selera)
-        

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar